Laman

Sabtu, 22 Oktober 2016

IMK Warning,alert,status message dan Periheral Awareness

Istilah Warning, alert, status message
Salah satu penggunaan non-Speech audio adalah untuk peringatan atau pengingat suatu pesan. Warning / alert / peringatan, dan Status Message / pemberitahuan pesan, tanpa sadar sebenarnya itu adalah penggunaan dari non-Speech audio.
·     Warning
Warning merupakan sebuah bentuk peringatan yang biasanya di tempel atau diletak kan di tempat-tempat umum, warning selalu berkaitan dengan sesuatu yang sangat berbahaya dan akan mendapatkan resiko bagi pelanggarnya
Contoh Warning 1
Seperti pantai. Apabila terjadi gempa yang berpotensi tsunami akan memberikan Warning dengan bunyi sirene bahaya
Contoh Warning 2
Apakah kamu yakin untuk menghapus permanent file ini ? (are you sure you want to permanently delete this file ?) akan muncul nada seperti “tiiinngg”
·     Alert
Alert hamper sama dengan warning yang biasanya sebuah bentuk peringatan / pemberitahuan tetapi makna alert tidak terlalu berbahaya atau tidak berdampak besar jika di bandingkan dengan warning.
Contoh Alert 1
Ketika orang tua memberi tahu kan anak perempuannya untuk berpakaian tidak minim
Contoh Alert 2
Pada saat battery laptop kita hamper habis akan ada peringatan ( Alert ) seperti “tuut” agar kita mengisi battery laptop

·     Status Message
Status Message yang artinya pesan status dalam bahasa inggris. Status Message saling berterkaitan antara warning dan Alert. Status message pada bukan dunia nyata sering di tunjukan dengan keadaan atau popup (notifikasi yang muncul) atau pengingat suatu pesan.
Contoh Status Message 1
Pada saat kita melakukan obrolan (Chatting) bila ada pesan yang masuk aka nada memberikan peringatan yang muncul(popup) berupa nada “tingnung”






Peripheral awareness
Peripheral Awareness adalah kemampuan untuk melihat tindakan atau objek yang tidak terlihat di garis pandang(vision), melainkan mampu mengenali  situasi di sisi / samping pengelihatan (side vision). Peripheral awarnes memberikan untuk mengambil keputusan/tempat di sisi  pengelihatan tanpa melepas focus kita. Peripheral Awareness penting karena memberikan kita ide yang lebih baik dari apa yang terjadi di dunia sekitar kita, bukan hanya di depan. Kemampuan ini sangat penting karena memungkinkan kita untuk bereaksi terhadap perubahan hanya di luar garis pandang
Contoh 1
seorang pemain yang sedang semangat menggiring bola melesat ke arah gawang lawan. Namun tiba-tiba ia kaget, ketika sebuah kaki ternyata sudah mengait bola dari belakang tubuhnya tanpa ia sadari sedikitpun keberadaan si pemain lawan yang menguntitnya.
Contoh 2
Saat kita sedang berjalan dan tiba tiba ada seseorang yang sedang berlari dari sisi kanan dan yang pasti akan menabrak kita, dengan reflek kita akan menghindar agar tidak tertabrak dengan orang yang berlari itu.
Jika seseorang dapat menggunakan secara bersamaan kedua penglihatan ini yaitu peripheral awarenes dan Foveal(focus) vision . Kemampuan ini sering disebut sebagai ‘soft eyes’ (pandangan lembut), atau dalam bahasa teknis sering disebut dengan Central – Peripheral Awareness (CPA).

Apa manfaat berada dalam kondisi soft eyes ini dalam permainan olah raga, khususnya sepakbola?

1. Secara bersamaan dapat melihat apa yang ada di depan kita dan apa yang ada di samping sekeliling kita. Bahkan pada kondisi ini kita bisa lebih mengenali bahasa tubuh orang lain, gerak-geriknya secara detail. Baik yang di depan kita maupun di sekeliling kita. Sehingga skil ini jelas-jelas bisa dipakai untuk membaca tindak tanduk lawan main. Kita akan dengan cepat menyadari saat lawan hendak merebut bola dari samping atau mungkin dari belakang. Bahkan kita bisa terhindar dari berbagai bahaya niat buruk lawan yang mungkinmau melakukan tindakan tackling pada kita. Manfaat utama ain adalah seperti dalam awal tulisan, yakni mampu membaca pergerakan rekan sepermainan. Misal, saat fokus berlari kedepan, peripheral vision kita akan mampu mengenali umpan kawan dari samping atau belakang, sehingga bola tidak lagi jatuh di tempat yang kosong.
2. Kondisi peripheral vision akan membuat kita bernafas lebih lancar dan nyaman, juga merasa lebih rileks. Hal ini penting dalam bermain olah raga, apalagi sepakbola. Kondisi pikiran dan otot menjadi lebih lentur untuk dipergunakan. Situasi ini sering dideskripsikan orang sebagai ‘masuk pada situasi kalem”. Situasi kalem ini penting sekali untuk membuat orang tidak mudah masuk kondisi emosional saat banyak faktor non teknis yang mengganggu. Misal, sorak sorai dan cercaan oleh penonton, sering memancing emosi pemain. Kondisi kalem membuat pemain lebih memegang kontrol emosi mereka.
3. Mengurangi jumlah “self talk” yang seringkali menjadi masalah saat permainan olah raga. Semua dari kita pernah merasakan tidak enaknya saat kita mencela atau mengkritik diri sendiri secara pedas, misal “Bodoh sekali saya!”, apalagi yang diulang berkali-kali. Bisa merusak fokus dan mood secara bersamaan, bahkan bisa frustrasi. Pemain bola perlu mengurangi self talk, saat situasi sedang “tidak berpihak” pada dirinya. Penelitian menunjukkan, saat berada dalam soft eyes ini, maka self talk akan berkurang secara otomatis. Ini bagus sekali bagi pemain bola yang mulai tertekan kondisi atau baru saja melakukan kesalahan.

4. Bagi penjaga gawang, melatih peripheral vision, akan meningkatkan koordinasi Mata-Kaki. Dengan demikian akan terjadi peningkatan respon atas pergerakan kaki seorang penendang bola. Orang awam, akan mengatakan ini sebagai meningkatnya gerak refleks.

Minggu, 19 Juni 2016

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI

Kelompok:

Tri nugroho pratama ( 1a114840 )
Trian al hafiz ( 1a114860 )
Wildan aditiansyah ( 1c114231 )
Wisnu ardy saputra ( 1c114299 )


BAB 17
IT SERVICE CONTINUITY MANAGEMENT
PENGENALAN DAN RUANG LINGKUP
Kebanyakan organisasi ketergantungan pada sistem TI mereka sehingga kehilangan kunci aplikasi atau infrastruktur dapat menyebabkan perusahaan gagal. Karena ini, organisasi perlu untuk merencanakan bagaimana mereka akan memulihkan mereka kunci sistem dalam skala waktu yang tepat saat terjadi gangguan. Ini adalah fokus dari proses manajemen (ITSCM)

MAKSUD DAN TUJUAN
Untuk menciptakan dan memelihara layanan IT dan rencana pemulihan
Untuk menilai dampak perubahan dan mengambil tindakan yang tepat untuk terus memberikan tingkat yang diperlukan perlindungan
Untuk secara proaktif meningkatkan kemampuan pemulihan yang mana biaya-efektif untuk melakukannya

KEGIATAN UTAMA
Layanan kontinuitas manajemen siklus hidup
Analisa dampak terhadap bisnis
Manajemen dan resiko analisis

RISIKO
Analisis dan resiko manajemen adalah untuk mengidentifikasi potensi ancaman terhadap aset atau layanan, memperkirakan probabilitas bahwa ancaman mungkin terjadi

Contoh: banjir (flood) salah satu contoh dari ancaman yang mungkin relevan untuk sebuah aset seperti pusat data

HUBUNGAN ITSCM DENGAN PROSES MANAJEMEN LAYANAN LAINNYA
Ketersediaan manajemen
Perubahan Manajemen
Manajemen tingkat layanan
Kapasitas manajemen
Manajemen keamanan informasi

BAB 18
MANAJEMEN KEAMANAN INFORMASI DAN AKSES MANAJEMEN
(INFORMATION SECURITY MANAGEMENT AND ACCESS MANAGEMENT )

PENGENALAN DAN RUANG LINGKUP
Keamanan data dan informasi sangat penting untuk setiap organisasi dan oleh karena itu sebuah keputusan bisnis informasi apa yang harus dilindungi dan level dengan tingkatanya. Sistem di tempat untuk menegakkan kebijakan keamanan dan memastikan bahwa keamanan bisnis itu dengan tujuan terpenuhi dikenal sebagai sistem manajemen keamanan informasi (ISMS)

TUJUAN
 Untuk memastikan bahwa Keamanan konsisten dengan memastikan bahwa informasi bisnis keamanan diatur secara efektif di semua layanan kegiatan manajemen layanan dan informasi sumber daya memiliki pelayanan yang efektif dan yang benar

Contoh kasus 1
Dokter membutuhkan akses ke catatan pasien untuk membantu mendiagnosa kemungkinan penyebab penyakit dan memberikan resep obat yang tepat, tapi kerahasiaan Catatan ini perlu dilindungi terhadap akses oleh pengguna yang tidak sah. Namun, pasien mungkin memiliki hak hukum untuk memesan akses ke informasi tertentu kepada individu-individu tertentu (misalnya, HIV status, aborsi, penyakit mental dan seterusnya).

langkah-langkah keamanan fisik yang diperlukan dan yang harus memiliki akses ke situs mana (misalnya data pusat). Fasilitas manajemen bertanggung jawab untuk menegakkan kebijakan ini. 

PERAN
Manajer keamanan TI bertanggung jawab untuk menentukan keamanan informasi kebijakan dan mendirikan ISMS. Setelah ini di tempat, manajer keamanan TI tugas adalah untuk memastikan bahwa semua kontrol yang tepat berada di tempat, orang menyadari kebijakan dan tanggung jawab mereka dan bahwa sistem keamanan berfungsi dengan benar. Manajer keamanan TI adalah focal point untuk semua masalah keamanan


PERAN OPERASI MELIPUTI:
kebijakan dan pelaporan;
menyediakan dukungan teknis dan bantuan;
mengelola kontrol keamanan;
pemeriksaan dan pemeriksaan individu;
memberikan pelatihan dan kesadaran;
memastikan bahwa kontrol keamanan tepat disebutkan dalam dokumentasi operasional.

BAB 19 
TRANSISI RENCANAKAN DAN DUKUNGAN
(TRANSITION PLANNING AND SUPPORT )

Proses utama dalam tahap ini melibatkan perencanaan dari semua kegiatan secara menyeluruh dan memastikan bahwa semua sumber daya yang diperlukan yang dibuat tersedia sebagai dan mana mereka diperlukan

TRANSISI PERENCANAAN DAN DUKUNGAN MEMELIKI LINGKUP YANG LUAS
menetapkan kebijakan, standar, dan model untuk layanan transisi kegiatan dan proses;
mengawasi kemajuan perubahan besar melalui semua proses transisi Layanan;
melakukan koordinasi dan mendahulukan sumber daya untuk mengaktifkan beberapa transisi akan dikelola tanpa konflik;

TUJUAN
Untuk merencanakan dan mengkoordinasikan Layanan transisi dan sumber daya yang diperlukan.

KEGIATAN UTAMA
Output dari tahap desain layanan adalah layanan desain paket (SDP), yang mencakup banyak informasi yang diminta oleh tim layanan transisi. Ini mencakup:

garis besar anggaran dan skala waktu;
Layanan spesifikasi dan model;
pilihan desain arsitektur, termasuk setiap kendala;
Definisi dan desain setiap rilis tertentu;
Bagaimana Layanan komponen akan berkumpul dan terintegrasi ke dalam rilis paket;
kriteria penerimaan layanan.


HUBUNGAN DENGAN PROSES MANAJEMEN LAYANAN LAINNYA

Transisi merencanakan dan dukungan memiliki antarmuka program dan tim(team) dan pelanggan, juga ke hampir setiap lain bidang jasa manajemen termasuk:
Layanan manajemen portofolio (SPM) 
SPM dan bisnis manajemen, membantu untuk mengelola komunikasi dua arah yang sesuai dengan  kegiatan-kegiatan perencanaan
Manajemen pemasok, untuk memastikan bahwa sesuai kontrak di tempat;

BAB 20


MANAGEMENT PENGETAHUAN
(KNOWLEDGE MANAGEMENT )

Kemampuan untuk memberikan kualitas layanan secara langsung dipengaruhi oleh orang-orang yang terlibat dalam layanan, terutama oleh pemahaman mereka tentang situasi, response option, akibat dan manfaat dari orang-orang pilihan (yaitu oleh pengetahuan mereka). Hal ini berlaku di seluruh semua tahapan siklus hidup (lifecycle)

TUJUAN
Untuk memastikan bahwa orang yang tepat memiliki pengetahuan yang benar pada waktu yang tepat untuk memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang masuk akal tentang tindakan

KEGIATAN UTAMA
Untuk mengumpulkan, menganalisis, menyimpan dan berbagi pengetahuan dan informasi dalam sebuah organisasi. Untuk tujuan ini, sebuah organisasi perlu untuk menerapkan sistem manajemen pengetahuan Layanan (SKMS), 

pengalaman staf teknis;
Perilaku dan kondisi );
pemasok dan mitra persyaratan, kemampuan dan keterampilan;
pengguna tingkat keterampilan (misalnya menggunakan PC atau internet).

TANTANGAN
Membuat pilihan yang salah di daerah tertentu dapat menyebabkan kelumpuhan dengan data overload atau informasi yang sangat tipis untuk menjadi tidak berguna


Nb: Kemungkinan ada kesalahan translate dikarnakan pengetahuan tentang ITIL belum mencukupi

Jumat, 08 April 2016

Tugas Informasi Teknologi Service Management (Base Journal)

Pengertian ITSM
ITSM (Information Technology Service Management, Manajemen Layanan Teknologi Informasi) adalah suatu metode pengelolaan sistem teknologi informasi (TI) yang secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaan. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi bisnis yang terpusat pada teknologi. Istilah ITSM tidak berasal dari suatu organisasi, pengarang, atau pemasok tertentu dan awal penggunaan frasa inipun tidak jelas kapan dimulainya.
ITSM berfokus pada proses dan karenanya terkait dan memiliki minat yang sama dengan kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses (seperti TQM, Six Sigma, Business Process Management, dan CMMI). Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk suatu pemasok tertentu atau detail teknis suatu sistem yang dikelola, melainkan berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas yang terkait dengan TI dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna teknologi informasi.
ITSM umumnya menangani masalah operasional manajemen teknologi informasi (kadang disebut operations architecture, arsitektur operasi) dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri. Contohnya, proses pembuatan perangkat lunak komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini, melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya. Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak terpapar langsung kepada konsumennya.
Sesuai dengan fungsi ini, ITSM sering dianggap sebagai analogi disiplin ERP pada TI, walaupun sejarahnya yang berakar pada operasi TI dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya seperti manajemen portfolio TI dan rekayasa perangkat lunak.


METODE PENELITIAN
Audit
Definisi audit menurut terminologi adalah pemeriksaan sistematis terhadap catatan–catatan dengan melibatkan analisa, pengujian bukti dan konfirmasi (Cannon, 2011). Sedangkan menurut ISACA, definisi audit adalah proses sistematis oleh tim independen atau individu berkualitas dan berkompeten untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan suatu proses dengan tujuan menunjukkan suatu pendapat dan melaporkan sejauh mana pernyataan proses tersebut diimplementasikan (ISACA, 2012). Adapun standar–standar audit yang dipublikasikan oleh ISACA di dalam Information System Standars, Guidelines and Procedures for Auditing and Control Professionals

Pengelolaan Layanan Teknologi Informasi
Pengelolaan Layanan TI atau yang disebut juga dengan Information Technology Service Management (ITSM) adalah pemanfaatan terencana dan terkendali terhadap aset TI, orang dan proses untuk mendukung kebutuhan operasional bisnis seefisien mungkin dan memastikan bahwa organisasi memiliki kemampuan secara cepat dan efektif untuk menanggapi kejadian/situasi yang tidak diinginkan serta terus menerus mengevaluasi proses dan kinerja dalam rangka mengidentifikasi dan menerapkan peluang untuk perbaikan (Addy, 2007).

Teknologi Informasi
ITIL mendefinisikan teknologi informasi sebagai pemanfaatan teknologi untuk penyimpanan, komunikasi atau pemrosesan informasi. Teknologi ini pada umumnya meliputi komputer, telekomunikasi, aplikasi dan perangkat lunak. Sedangkan informasi dapat mencakup data bisnis, suara, gambar, video dan sebagainya. Teknologi informasi sering digunakan untuk mendukung proses binsis melalui layanan TI (TSO, 2011).

ITIL
Information Technology Infrastructure Library(ITIL) adalah sebuah framework berisi best practice yang dapat digunakan untuk membantu organisasi dalam mengembangkan proses Information Technology Service Management (ITSM) (itSMF, 2007). Kerangka kerja ITIL bertujuan secara berkelanjutan meningkatkan efisiensi operasional TI dan kualitas layanan pelanggan (Sarno, 2009). ITIL versi 3 terdiri dari 5 core publication(buku utama) yang membahas tentang tahapan–tahapan siklus layanan (service lifecycle) Adapun tahapan–tahapan pelaksanaan audit pengelolaan layanan teknologi informasi mengacu pada standar pelaksanaan audit ISACA dalam Information Systems Standards, Guidelines and Procedures for Auditing and Control Professionals, khususnya standar S5 Planning (Perencanaan Audit), S6 Performance of Audit Work (Pelaksanaan Audit) dan S7 Reporting (Pelaporan Hasil Audit).

Tahap Perencanaan Audit
Pada tahap perencaaan audit, terdapat empat langkah yang akan dilakukan, meliputi:

1. Penilaian Risiko Audit
Pada proses penilaian risiko audit, langkah yang dilakukan adalah menentukan kategori tingkat kesenjangan (gap) dari 20 (dua puluh) layanan CSS yang terdapat di dalam laporan hasil survei layanan periode tahun 2012 semester I berdasarkan nilai kesenjangan (gap) layanan. Adapun nilai kesenjangan (gap)layanan pada laporan tersebut didapatkan dari hasil perbandingan antara nilai kenyataan (perceived) dengan nilai harapan (expected) dari kualitas layanan yang tersebar di unit–unit kerja PT. Pertamina (Persero). Jika nilai kesenjangan(gap) layanan >–0.30 maka dikategorikan memiliki tingkat kesenjangan rendah (low), –0.80 sampai dengan –0.30 dikategorikan memiliki tingkat kesenjangan sedang (medium) dan <–0.80 dikategorikan memiliki tingkat kesenjangan tinggi (high). Selanjutnya nilai kesenjangan (gap) layanan tersebut diurutkan berdasarkan kategori tingkat kesenjangan (gap) secara descending dengan format seperti yang ditunjukkan pada  2. Semakin tinggi nilai kesenjangan (gap) layanan menunjukkan semakin besar tingkat risiko dan intensitas pemeriksaan yang harus dilakukan oleh auditor.

2. Penentuan Ruang Lingkup Audit
Penentuan ruang lingkup audit mengacu dengan cara memilih layanan– layanan yang hanya terdapat di area kerja IT M&T PT. Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V Surabaya. Adapun layanan–layanan tersebut terbagi menjadi layanan berbasis ERP/Non–ERP dan layanan teknologi informasi. Layanan berbasis ERP/Non–ERP meliputi layanan dukungan ERP, layanan dukungan aplikasi Non–ERP dan layanan pemeliharaan aplikasi Non– ERP. Sedangkan layanan teknologi informasi terdiri dari layanan konsultasi TI, layanan email dan file sharing, layanan jaringan dan internet, layanan telekomunikasi, layanan multimedia dan layanan desktop.


3. Penyusunan Rencana Kerja Audit
Rencana kerja audit (audit working plan) berupa jadwal kerja yang berisi uraian kegiatan serta estimasi waktu yang diperlukan selama pelaksanaan audit mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan hingga tahap pelaporan audit.

4. Perancangan Program Audit
Program audit pengelolaan layanan teknologi informasi dirancang dan dikembangkan secara fleksibel berdasarkan pemetaan layanan–layanan IT M&T PT. Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V Surabaya terhadap ruang lingkup ITILService Operation(ITIIL–SO) Versi 3 Edisi Tahun 2011. Adapun pemetaan layanan–layanan dalam perancangan program audit pengelolaan layanan teknologi informasi. Format tabel program audit terdiri dari kolom pemeriksaan, kolom referensi kertas kerja (ref. KKA), kolom catatan pemeriksaan dan kolom catatan reviu. Adapun format pengkodean kertas kerja audit (ref. KKA) disusunmenggunakan 3 (tiga) digit kombinasi huruf dan angka dengan penjelasan sebagai berikut

a. Digit pertama (1) adalah huruf kapital, menunjukkan nomor urut ruang lingkup ITIL Service Operation Edisi Tahun 2011.

b. Digit kedua (2) adalah angka, menunjukkan jenis kertas kerja audit pengelolaan layanan teknologi informasi berupa:
1. Program Audit
2. Data Primer, adalah data yang diperoleh dari pihak auditee
3. Data Sekunder, adalah data hasil analisis terhadap data primer
4. Daftar Temuan

c. Digit ketiga (3) adalah huruf kecil, menunjukkan nomor urut kertas kerja audit pengelolaan layanan teknologi informasi dari setiap jenis kertas kerja audit.
Langkah dalam tahap perencanaan audit ini menghasilkan tabel: 1. Prioritas audit berdasarkan nilai kesenjangan (gap) layanan, 2. Layanan yang menjadi ruang lingkup pemeriksaan, 3. Rencana kerja audit dan 4. Program audit.

Tahap Pelaksanaan Audit
Pada tahap pelaksanaan audit, terdapat 2 (dua) langkah yang akan dilakukan, yaitu:

1. Pemeriksaan Data/Bukti Pendukung Audit
Proses pemeriksaan data/bukti pendukung dilakukan dengan cara mengkaji ulang atau mereviu kebijakan, standar, prosedur, aturan yang terkait dengan pengelolaan layanan serta melakukan interviu, observasi dan wawancara kepada pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan aktivitas (responsible), pihak pemilik dan pengarah pelaksanaan aktivitas (accountable), pihak pemberi saran dan opini dalam pelaksanaan aktivitas (consulted) dan pihak yang senantiasa diinformasikan perihal perkembangan aktivitas (informed).
Hasil dari pemeriksaan data/bukti pendukung ini berupa bukti–bukti audit yang dicatatkan pada kolom referensi kertas kerja audit (Ref. KKA) di masing–masing program audit.

2. Pengawasan Data/Bukti Pendukung Audit
Berdasarkan output yang dihasilkan pada tahap pemeriksaan data/bukti pendukung berupa bukti–bukti audit, maka langkah berikutnya adalah melaporkan hasil pemeriksaan data/bukti pendukung tersebut kepada auditor senior. Hal ini bertujuan agar dilakukan pemeriksaan ulang oleh auditor senior terkait kelengkapan, obyektivitas dan waktu dari data/bukti pendukung audit. Adapun hasil dari pemeriksaan ulang oleh auditor senior berupa catatan/komentar perbaikan yang terdapat pada kolom catatan reviu di masing–masing program audit.
Hasil dari proses pengawasan data/bukti pendukung audit ini berupa temuan audit.
Langkah dalam tahap pelaksanaan audit ini menghasilkan output berupa bukti audit dan temuan audit.

Tahap Pelaporan Audit
Berdasarkan output yang dihasilkan pada tahap pelaksanaan audit berupa bukti–bukti audit dan temuan audit, maka langkah selanjutnya adalah menyusun laporan audit pengelolaan layanan teknologi informasi sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penugasan audit yang telah dilaksanakan. Laporan audit berisi temuan dan rekomendasi kepada pihak IT M&T PT. Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V Surabaya selaku auditee. Laporan audit yang dihasilkan terlebih dahulu dikonfirmasikan kepada pihak auditee dalam bentuk draft laporan audit sebelum dilaporkan secara formal. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan ketidaktepatan pengungkapan temuan selama proses pemeriksaan dan membentuk kesepahaman opini antara auditor dengan auditee.


Analisa Journal
Pentingnya layanan informasi teknologi service management pada era globalisasi
Hasil survei menunjukkan bahwa kualitas itu manajemen layanan cukup tetapi upaya pencegahan yang diperlukan untuk mencegah kondisi yang buruk. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kesenjangan Layanan didasarkan pada informasi teknologi jasa manajemen (ITSM) standar, sangat diperlukan untuk melakukan audit berdasarkan kerangka kerja Perpustakaan infrastruktur teknologi informasi (ITIL). Hasil audit manajemen layanan TI yang telah dilakukan telah mengakibatkan temuan dan rekomendasi perbaikan yang berkaitan dengan proses dan kegiatan operasional terdiri dari acara manajemen, manajemen insiden, pemenuhan permintaan, masalah manajemen, dan dukungan desktop dan mobile perangkat, tapi hasil audit telah tidak menunjukkan identifikasi faktor yang menyebabkan kesenjangan. Dari migas setelah konvergensi PSAK No.29 untuk standar laporan keuangan internasional (PSAK No. 33). Objek penelitian ini PT. Pasific Chevron Indonesia. Dari hasil penelitian yang telah, PT. Pasific Chevron Indonesia tidak melaksanakan metode sukses usaha semata-mata, karena dalam pelaksanaan Chevron Pasific Indonesia juga didasarkan pada PSC. Biaya yang terjadi di PT. Pasific Chevron Indonesia diidentifikasi oleh tiga biaya, yaitu: operasi biaya (OE), belanja modal anggaran (CEB) dan biaya akuisisi.



Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/ITSM
http://jurnal.stikom.edu/index.php/jsika/article/viewFile/390/278
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=186482&val=6445&title=Perlakuan%20akuntansi%20industri%20migas%20pasca%20konvergensi%20psak%20no.29%20terhadap%20international%20financial%20report%20standar%20(psak%20no.33)%20studi%20kasus%20pada%20PT.%20Chevron%20pasific%20indonesia